Sabtu, 30 November 2019

Shalatmu Bahagiakan Dunia dan Akhiratmu


Pendalaman Terapi Shalat Bahagia
Oleh:
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
(Founder)



Siapakah Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag ??




Dilahirkan di Lamongan, 09-06-1957; beristri, 7 anak, 3 cucu;  alumni Ponpes Ihyaul Ulum Gresik (1975); Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya (sejak 2004); Dosen Teladan Nasional (2004 dan 2007); Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (2000-2004); Pengurus Pembaca dan Penghafal Al Qur’an Jatim (1994); Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia (APDI 2009-2013); Unsur Ketua Majlis Ulama Indonesia Jawa Timur; Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Jatim (2011-sekarang); Konsultan Pendidikan Yayasan Khadijah (2011-sekarang); Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris; Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an;  Asesor Badan Akreditas Nasional Perguruan Tinggi;  Saksi Ahli Mahkamah Konstitusi tentang UU Penodaan Agama;  Penasehat Forum Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama; Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Al Khoziny Sidoarjo (1990-2009); Ketua Yayasan Pendidikan dan Sosial Kyai Ibrahim Surabaya;  Penasehat Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (2002); Pengisi Mimbar Islam di TVRI Jatim; Kajian Terapi Shalat Bahagia di RRI Jakarta pro.1 dan 4 (91.2 FM dan 92.8 FM) dan Radio El Victor Surabaya 93.3 FM. Imam shalat taraweh/penceramah Islam di Hongkong, Macau, Senzhen, Taiwan (2000-sekarang), Malaysia (2004), Jepang (2006 dan 2013), Iran (2008, 2009,2010), Mauritius-Afrika (2000), Inggris (2005), Belanda (2007), Bangladesh (2013, 2014, 2015) dan Nepal (2015). Buku-buku yang ditulis: 60 Menit Terapi Shalat Bahagia (UIN Sunan Ampel Press 2012) sekaligus sebagai founder dan trainer Pelatihan Terapi Shalat Bahagia (PTSB), Doa-doa Keluarga Bahagia (Surabaya, Kun Yaquta Foundation 2014)Bersiul di Tengah Badai (UIN Sunan Ampel Press 2015), Teknik Khutbah Jum’at Komunikatif (UIN Sunan Ampel Press 2014), Mengenal Tuntas Al-Qur’an (MTQ) (Imtiyaz Surabaya 2011), Ilmu Dakwah (Prenada Jakarta 2008), Dinamika Kepemimpinan Tokoh Agama di Indonesia (Harakat Media Jogjakarta 2008), Hijrah (Harakat Media Jogjakarta 2008), Solusi Ibadah di Hongkong (Duta Masyarakat Surabaya 2008), Solusi Ibadah di Taiwan (PCNU Taipei 2010), (2014); Dalam proses cetak buku Terapi Shalat Sukses Studi. Pengisi kajian tafsir Al Qur’an di Majalah Nurul Hayat dan Majalah Sabilillah, konsultasi keluarga bahagia di Majalah Nurul Falah; rubrik agama di Harian Duta Masyarakat (2010), Rubrik Dialog mualaf di Tabloid Nurani (1995).



SHALATMU BAHAGIAKAN DUNIA DAN AKHIRATMU


 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pada hari Sabtu, 23 Nopember 2019 tepatnya pada pukul 06.30-13.00 WIB telah diselenggarakan kuliah wada’ (penutupan) mata kuliah Studi Al-Qur’an dan Ilmu Dakwah dan Training Terapi Shalat Bahagia yang diikuti oleh mahasiswa KPI, Ilmu Komunikasi, Bimbingan Konseling Islam, Manajemen Dakwah. .Bertempat di Kun Yaquta Convention Center, Jl. Siwalankerto Tengah 66 Surabaya Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Pendalaman Terapi Shalat Bahagia telah dilaksanakan baik dalam negri maupun di luar negri.

Kebahagiaan merupakan dambaan seluruh umat manusia, apa pun latar belakang agama, bahasa, geografis atau bahkan suku bangsa mereka. Dan, masing-masing agama yang hadir dalam sejarah manusia telah memformulasikan kebahagiaan, mulai dari definisinya, kriterianya, hingga cara-cara bagaimana manusia bisa menggapainya. Dan kita, umat yang melaksanakan ajaran agama Islam, juga termasuk umat yang sangat mendambakan kebahagiaan, tidak hanya kebahagiaan di kehidupan akhirat kelak, melainkan juga kebahagiaan dalam kehidupan dunia kini. Dan, shalat merupakan sumber agar mendapatkan kebahgiaan baik di dunia maupun di akhirat. Shalat merupakan ibadah yang sangat dicintai Allah, dialah amal yang merupakan salah satu dari rukun Islam. Ciri utama seorang mukmin sejati adalah menegakkan shalat wajib yang lima waktu dan ibadah tersebut dilakukan dengan keimanan karena mengharap ridha-Nya. Amalan mulia ini agar diterima di sisi Allah maka harus meneladani dan mencontoh bagaimana petunjuk Allah dan Rasul-Nya dalam melakukannya baik itu gerakan maupun bacaannya. Shalat yang dilakukan dengan benar dan ikhlas, akan membuat hati bahagia, jiwa damai, dan menghilangkah kegelisahan hidup. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh dalam mengerjakan shalat baik dalam keadaan lapang, maupun saat terhimpit suatu masalah.

حَیِّ عَلَی الصَّلاةِ 
(Hayya Ala al-Shalāh)
Mari kita tunaikan Shalat
                        حَیِّ عَلَی الْفَلاحِ 
(Hayya Ala al-Falāh)
Mari Kita Bahagia

Ada dua kata kunci dalam firman Allah di atas, yaitu khusyuk dan bahagia, bahwa pelaku shalat khusyuk dijamin hidup sukses dan bahagia. Setiap hari, kita diseru untuk sukses melalui azan, hayya ‘alas shalah, hayya alal falah (ayo shalat dan ayo bahagia). Kita disemangati terus menerus setiap hari untuk lebih berprestasi dan berbahagia (al falah) agar kita dapat memimpin dunia, bukan penonton atau orang yang terpuruk dan terpinggirkan. Shalat khusyuk adalah shalat yang menumbuhkan ketundukan kepada perintah Allah, kepasrahan dan perasaan senang terhadap apapun dan berapapun pemberian Allah. Bisakah kekhusyukan diperoleh tanpa memahami makna doa-doa shalat? Hampir mustahil. Oleh sebab itu, Anda harus memahami arti semua doa shalat, sekalipun hanya secara global, tidak arti kata perkata. Bagaimana mengatasi kesulitan pemahaman doa-doa shalat yang tertulis dalam teks Arab itu, terutama bagi pemula atau mualaf? Sangat mudah, jika diajarkan dengan keseimbangan otak kiri dan kanan.

Sesuatu yang asalnya berat seperti batu akan menjadi emas dengan kita merubah mindset agar menuju kebahagiaan. Kematian yang ditakuti secara berlebihan. Ini juga merupakan sumber kecemasan. Melalui rukuk dengan posisi kepala yang diserahkan kepada Allah, Anda diingatkan untuk menyerahkan hidup-mati kepada Allah SWT, sebab kematian bukanlah pilihan, melainkan kepastian. Dengan menghapus ketakutan itu, Anda telah menutup pintu-pintu stres.  Melalui rukuk pula, Anda disemangati untuk rendah hati dan hormat kepada siapapun. Sikap hormat dan menghargai orang dapat mengantarkan Anda hidup lebih bahagia, sebab sikap itu mengundang simpati banyak orang untuk bekerjasama dalam banyak hal, termasuk dalam berbisnis untuk menambah penghasilan Anda. Pujian dan apresiasi orang yang diharap-harap atas apa yang Anda lakukan. Ketika Anda mengucapkan rabbana walakal hamdu pada waktu bangkit dari rukuk, sebenarnya Anda sedang bersumpah tidak mengharap balas budi, pujian, apresiasi dan terima kasih dari siapapun selain Allah, sebab Dia-lah satu-satunya yang berhak dipuji. Mengharap pujian orang sama dengan merampas hak-hak Allah, sekaligus membuka sejuta pintu stres. Sebab, menurut Al Qur’an (QS. 34: 13), hanya sedikit orang yang memberi apresiasi karya orang. Semakin besar harapan seseorang akan apresiasi orang, semakin terbuka lebar pintu stres. Orang bahagia tidak akan mengemis apresiasi, tapi justru selalu memberi apresiasi sekecil apapun jasa orang. Curahan kesedihan hati yang belum tersalurkan kepada orang paling dipercaya. Oleh sebab itu, salah satu obat stres adalah mencurahkan masalah hidup sampai tuntas kepada orang yang dipercaya dan bersedia mendengarkannya, sekalipun orang itu tidak dapat memberikan solusi. Ketika bersujud minimal 30 detik dan Anda mencurahkan isi hati sepuas-pusanya, maka berkuranglah beban psikologis Anda, sebab semua curahan hati telah ditumpahkan kepada Allah SWT disertai keyakinan bahwa Allah akan mengambil alih semua masalah yang Anda hadapi. Dosa-dosa masa lalu. Melalui doa pada posisi duduk di antara dua sujud, Anda diyakinkan bahwa tidaklah mungkin, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun tidak mengampuni dan mengasihi orang yang shalat, dan merengek meminta belas kasih dan ampunan kepada-Nya. Pesimis dan minder. Lihatlah, betapa gelap dan ciut muka orang yang tidak percaya diri, pesimis dan putus asa. Itulah tanda orang yang “kafir” dan menderita (QS. 14:7 dan 12:87). Melalui syahadat pada posisi tasyahud, keimanan Anda dikuatkan sehingga lebih percaya diri dan optimis, bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan diyakini sebagai sumber energi untuk mengarungi masa depan. Sekarang, lihatlah, betapa cerah dan ceria muka orang yang optimis.

 Terapi shalat bahagia bukan berarti shalat yang menghasilkan uang untuk membayar hutang atau menyembuhkan penyakit. Tapi, dengan shalat yang benar, Anda optimis dan amat yakin bahwa Allah pasti, pasti, pasti Maha Kuasa mengatasi kesulitan ekonomi, penyakit, dan seberat apapun masalah Anda. Melalui rukuk, sujud dan tasyahud, beban psikologis Anda terasa ringan, sebab tugas Anda sudah tuntas, yaitu usaha dan doa. Lalu, Anda pasrah, pasrah, pasrah dengan keyakinan bahwa Allah SWT akan “mengambil alih” semua masalah dan memberi keputusan yang terbaik untuk Anda (QS. 65: 2-3). Terapi shalat bahagia bukan menambah atau mengurangi aturan shalat yang sudah paten dari Nabi SAW, melainkan hanya memberi kemudahan menemukan kecanggihan shalat. Handphone Anda sangat canggih untuk berkomunikasi lintas batas geografis secara audio visual dengan cepat dan akurat. Tapi, sayang, Anda tidak mengerti cara menggunakannya. Sungguh, shalat Anda super canggih sebagai pemompa semangat hidup dan pembebas penderitaan. Tapi, sayang, Andalah yang tidak canggih memanfaatkannya.

PTSB memberikan bimbingan dan praktek shalat agar Anda memahami dan mengingatnya lebih kuat dan bisa memantapkan keyakinan akan kebesaran Allah, percaya diri, dan optimis akan penyelesaian semua masalah menuju hidup bahagia. Semua masalah pasti bisa diselesaikan dengan shalat. Hapus kecemasan, raih sukses dan kebahagiaan. Wajah penuh bahagia adalah cermin syukur kepada Allah. Hanya pribadi bahagialah yang bisa maksimal berkreasi, produktif dan membahagiakan oranglain. PTSB memberikan bimbingan untuk merubah mindset untuk ikhlas dan ridlo atas keputusn Allah, lebih percaya diri, optimis, tenang di tengah keluarga, dan kesembuhan dari beberapa penyakit setelah mengikuti PTSB. Tujuan utama shalat adalah kokohnya mindset T2Q (tawakal, tumakninah, dan qona’ah), sedangkan kesembuhan, rizki dan sebagainya hanya bonus semata, sekalipun semua itu sangat dibutuhkan. Anda sebaiknya menyiapkan Daftar Anugrah (DA), yaitu apa saja nikmat besar Allah yang telah Anda terima, agar pernyataan syukur Anda terfokus selama shalat. Anda perlu juga mencatat apa saja masalah hidup dan apa saja harapan anda. Dengan  bantuan Daftar Masalah dan Harapan (DMH) yang telah disiapkan itu, Anda bisa rukuk dan sujud lebih lama dengan penuh penghayatan.

Spesifikasi PTSB:
1. Al-Qur’an dan Hadits
2. Arabic Complement
3. Drive Spiritual Gravitation
4. Positive Thinking, Self-Confidence

Adapun shalawat adalah doa khusus untuk Nabi SAW. Tapi anda boleh mengaitkannya dengan masalah dan harapan anda.

Shalawat dan Doa
By: Moh.Ali Aziz

Ya Rabbi sholli ‘ala Muhammad
Ya Rabbi sholli ‘alaihi wasallim

Wahai Allah kami bersholawat,
Dari Nabi kami harap syafa’at

Wahai pengampun segala dosa,
Ampuni kami dan orangtua

Wahai Allah, Yang Maha Kuasa
Berikan rahmat untuk orang tua

Ya Rahman Rahim Maha Pemurah, 
Mudahkan kami ziarah ke Mekkah

Wahai Penyembuh semua penyakit,
Sembuhkan semua hamba-Mu
Yang sakit

Wahai Pengatur alam semesta,
Jadikan kami k’luarga bahagia

Ya Razzaq Allah Yang Maha Kaya,
Berikan kami rizki yang berkah

Wahai Pengendali langit dan bumi,
Gagalkan orang dhalim pada kami

Wahai Pengasih tiada batas
Kuatkan kami sabar dan ikhlas

Pedoman penyusunan Do’a, yaitu:
      1.  Ceritakan masalah Anda secara rinci dan focus.
      2.  Katakanlah Anda Ikhlas, ridlo dan tidak mengeluh atas masalah Anda.
      3.  Katakanlah anda yakin (3x) Allah pasti (3x) Maha Kuasa Menolong Anda.
      4.  Katakanlah Anda pasrah (3x) kepada Allah atas apapun keputusannya. 

Gerakan PTSB  juga mengajarkan kita bagaimana memahami fungsi dari setiap gerakan yang ada dalam sholat dan apa yang harus kita lakukan dalam setiap gerakan sholat tersebut, antara lain:
No
Posisi
Kata Kunci
Makna
1
Berdiri
SUBHAN: (Syukur, Bimbingan, Ketahanan, Iman)
Hal ini mengandung makna bahwa Berdiri adalah menandakan perilaku dhahirnya dan mengucapkan takbir menandakan perilaku batinnya. Dalam kehidupan kita memiliki urusan yang penting yaitu membesarkan Allah SWT bukan membesarkan diri sendiri. Tanda orang yang berdirinya benar dalam sholat akan memiliki pendirian yang sangat kuat kepada Allah SWT, sebaliknya orang yang berdirinya tidak benar dalam sholat akan mudah terpengaruh oleh bujuk rayu yang duniawi. 
2
Rukuk
TURUT: (Tunduk, Menurut)
Rukuk memberi makna agar kita selalu menjadi seorang hamba yang ta’at serta tawadhu’. Segala sesuatu hanyalah milik dan dari Allah SWT maka simpan  baik-baik sikap sombong mu itu.
3
I’tidal
HADIR: (Hak pujian, Takdir)
I’tidal memiliki makna bahwa yang mempunyai hak atas pujian hanyalah Allah SWT yang maha Agung dan yang menetapkan takdir setiap makhluk hanyalah Allah. Tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui takdirnya kecuali Allah SWT. Takdir adalah rahasia Allah SWT dari pengetahuan semua makhluknya.
4
Sujud
MASJID: (Maaf, Sinar, Jiwa dan raga)
Perilaku Lahir atau dhahirnya adalah sujud dan perilaku batinnya adalah membaca subhana rabbiyal 'alaa. Sujud bermakna sebagai bentuk rasa maaf atau memohon ampun atas kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat dan meminta apa yang kita inginkan. Pada saat sujud dan kepala tertunduk di bawah menunjukkan bahwa betapapun hebatnya kepala yang selalu di atas, harus tetap mengakui keagungan Allah SWT. Urusan Sujud adalah mengagungkan Allah SWT. Tanda sujud dalam sholat yang benar maka seluruh perangkat manusia lahir dan batin akan selalu aktif berfungsi untuk Allah SWT.
5
Duduk Antara Dua Sujud
AKSI:
(Ampunan, Kasih, Sejahtera, Iman)
Gerakan duduk diantara dia sujud bermakna mengevaluasi semua yang telah dilakukan. Ibaratnya, sujud ibarat proses pekerjakan yang dilakukan, duduk diantara dua sujud adalah hasil yang diperoleh. Duduk diantara dua sujud adalah kemampuan mengevaluasi diri dari tindakan yang telah dilakukan (sujud). 
6
Tasyahud
SOSIAL:
(Sholawat, Persaksian, Tawakal)
Bermakna penutup atau hasil yang harus dimiliki oleh setiap orang yang menjalankan ibadah sholat. urusan duduk tahyat adalah urusan antara manusia dengan Allah SWT, between us and god. Pada saat duduk tahyat kita mengucapkan kalimah syahadah sebagai perwujudkan janji dengan Allah SWT.

Kesimpulan yang dapat diambil yaitu, shalat ialah sebagai media penting untuk mendekatkan diri pada Allah Ta’ala, lebih-lebih saat sujud, ia akan merasa semakin dekat dengan Allah Ta’ala. Allah-lah tempat hamba mengadu, memohon pertolongan dan hati seorang mukmin akan tenteram ketika shalat. Oleh karena itu, kita diperintahkan Allah Ta’ala untuk memperbanyak doa dan permohonan kepada-Nya. Jiwa kita yang sedang galau, cemas, merasa gundah, mengalami berbagai kesulitan hidup yang menghimpit, segala kesedihan akan tergantikan dengan jiwa kebahagiaan jika kita melaksanakan shalat sesuai perintah Allah SWT.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Salsabilla Asharnia Priyadini
Sidoarjo, 30 November 2019

Sabtu, 28 September 2019

Makalah Surat Alquran


SURAT AL-QUR’AN


Makalah Mata Kuliah

Studi Alquran

 

Dosen Pengampu:

Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

Asisten Dosen:

Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I


Disusun Oleh:

Salsabilla Asharnia Priyadini

NIM: B01219050

 

Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Surabaya

2019




KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkah dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ‘‘Surat Alquran”. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Makalah ini saya buat sebagai salah satu syarat memenuhi tugas mata kuliah studi Alquran. Saya mengucapkan terimakasih kepada Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag selaku dosen mata kuliah studi Alquran, yang telah memberikan tugas ini sebagai media peningkatan pengetahuan tentang surat Alquran serta memberikan pengarahan dalam penyusunan makalah ini. Terimakasih juga saya ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu saya selama proses pembuatan makalah ini.

Saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu saya mohon kritik dan saran. Semoga makalah ini dapat diterima dengan baik dan bermanfaat bagi para bembaca.


              Surabaya, 20 Agustus 2019




                 Salsabilla Asharnia Priyadini
  



DAFTAR ISI

      KATA PENGANTAR.....................................................................................ii
      DAFTAR ISI..................................................................................................iii
      BAB I PENDAHULUAN
           A.   Latar Belakang......................................................................1
           B.   Rumusan Masalah.................................................................2
           C.   Tujuan.....................................................................................2

      BAB II PEMBAHASAN
          A.    Pengertian Surat Alquran......................................................3
          B.     Penentuan Urutan Surat-Surat Alquran............................13
          C.    Batasan Surat-Surat Alquran..............................................18
          D.    Keutamaan Surat Tertentu..................................................19 

      BAB III PENUTUP
                        A.    Kesimpulan............................................................................21
                        B.     Saran......................................................................................21
                          
            DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................22



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Surat dalam Alquran memberikan sebuah makna tentang petunjuk bagi siapa yang mempercayai dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari hari. Pada hakikatnya surat ibarat gedung yang indah mengandung ilmu dan hikmah. Tiap-tiap surat mengandung materi yang sempurna serta saling berhubungan.

Menurut para ulama, jumlah surat-surat yang terdapat dalam Alquran ada 114 surat  yang terdiri dari surat al-Fatihah sampai surat al-Nass sebagaimana terhimpun dalam Mushaf Utsmani dan merupakan pedoman hidup bagi manusia. Ada juga yang berpendapat  mengatakan bahwa surat Alquran berjumlah 113 dengan alasan bahwa surat al-Anfal dengan at-Taubah sebagai satu arah yang digabung, mengingat antara keduanya mengandung kemiripan dan memang tidak dibatasi dengan basmalah.[1]

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan lain-lainnya, Nabi Muhammad bersabda : “Diberikan kepadaku tujuh surat yang panjang, yang menyamai Taurat, diberikan kepadaku surat-surat al-Miuun yang menyamai Zabur, diberikan kepadaku al-Matsani yang menyamai Injil, dan aku diberi kelebihan dengan surat-surat al-Mufassal”.

Dr. Abdullah Syahatah dalam bukunya Alquran Watt Tafsir mengatakan surat-surat Alquran yang disepakati para ulama sebagai surat Makkiyah dan Madaniyah .

Dalam pengertian lain, surat merupakan bagian-bagian tubuh Alquran yang sebenarnya. Kata Sura (jamak: suwar) juga muncul dalam teks Alquran tetapi asal-usul kata ini sangat meragukan.

Pandangan yang paling umum diterima adalah bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Ibrani, shurah yaitu suatu deretan sisa-sisa batu bara di dinding dan bekas pepohanan anggur. Dari makna ini surat dapat disimpulkan menjadi “Serangkaian bagian” atau “Bab” (chapter).

B.     Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian surat Alquran ?
2.    Bagaimana penentuan urutan surat-surat pada Alquran ?
3.    Apa saja batasan surat-surat Alquran?
4.    Bagaimana keutamaan pada surat tertentu?

C.   Tujuan
1.    Mengetahui pengertian surat Alquran.
2.    Memahami penentuan urutan surat-surat pada Alquran.
3.    Memahami batasan surat-surat pada Alquran.
4.    Mengetahui keutamaan pada surat tertentu.




BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Surat Alquran
     Kata surat berasal dari tiga yaitu kata al-su’rah yang berarti sisa air dalam bejana, al-sur yang berarti pagar pembatas atau dinding dan kata al-surat yang berarti pasal. Bisa juga diartikan sebagai tingkatan atau martabat, tanda atau alamat, gedung yang tinggi serta indah, sesuatu yang sempurna serta susunan yang bertingkat.

     Kata surat secara terminologis yaitu sekelompok ayat-ayat Alquran yang menjadi satu kesatuan mempunyai permulaan dan penutup. Alangkah baiknya surat dibaca dengan basmalah serta bersungguh-sungguh agar mendapat tingkatan pahala yang mulia.

Surat-surat Alquran terdiri dari empat bagian yaitu:
1.    Ath-Thiwal berisikan 7 surat diantaranya, seperti al-Baqarah, Ali Imran, an-Nissa’, al-Ma’idah, al-An’am, al-A’raf dan yang ketujuh ada yang mengatakan al-Anfal dan Bara’ah juga termasuk karena tidak dipisahkan dengan basmalah diantara keduanya. Ada pula yang berpendapat bahwa yang ketujuh adalah surat Yunus.
2.   Al-Mi’un yaitu surat yang memiliki ayat yang lebih dari seratus atau sekitaran itu.
3. Al-Matsani yaitu surat-surat yang memiliki ayat dibawah al-mi’un, yang dimana bacaannya diulang-ulang lebih banyak dari ath-thiwal dan al-mi’un.
4. Al-Mufashol ada yang bilang diawali dengan surat Qaf, ada yang bilang diawali dengan surat al-Hujurat, adapula yang mengatakan diawali dari surat lain. Dinamakan mufashol karena banyaknya fashl (pemisah) diantara surat dengan basmalah. Mufashol dibagi menjadi tiga, yaitu thiwal, ausath, dan qishar. Thiwal dimulai dari surat Qaf atau al-Hujurat sampai dengan ‘Amma atau al-Buruj. Ausath dimulai dari surat ‘Amma atau al-Buruj sampai dengan adh-Dhuha atau Lam Yakun, dan qishar dimulai dari adh-Dhuha atau Lam Yakun sampai dengan surat Alquran yang terakhir.[2]

     Penamaan surat Alquran tersebut memiliki nama tersendiri. Sebuah surat boleh jadi mempunyai satu ayat beberapa nama. Tetapi, nama surat tersebut tidaklah menunjukkan judul atau tema pokok dari surat-surat tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap surat mempunyai tema tetapi hanya dijadikan sebagai alat metode identifikasi.

     Kitab suci Alquran terdiri dari beberapa surat yang memiliki beberapa ayat. Surat dalam Alquran berisi tentang perintah dan larangan Allah SWT, ilmu yang berkaitan dengan alam semesta, benda, energi, sistem-sistem, serta kehidupan baik di dunia maupun akhirat. Ilmu ini sebagai alat penunjang kesuksesan, kekuatan, keimanan, dan ketakutan kepada larangan Allah SWT.[3]

Dari segi namanya, surat Alquran dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu:
1.  Surat yang hanya memiliki satu nama, seperti an-Nisa’, Thaha, al-A’raf, dan   sebagainya.
2.  Surat yang memiliki lebih dari satu nama, seperti surat al-Fatihah, yang juga diberi nama Ummul Kitab, surat at-Taubah yang juga disebut surat al-Bara’ah, surat al-Isra’ yang disebut juga surat Bani Israil, dan sebagainya.
3.  Beberapa surat dengan satu nama, yaitu surat al-Mu’awwidzatain untuk surat al-Falaq dan an-Nass, surat Al-Hawamim untuk surat-surat yang didahului oleh kata Ha-Mim, surat Al-Zahrawyn untuk surat al-Baqarah dan surat Ali ‘Imran (Muslim, 1998: I: 356: No.804).[4]


Adapun pemberian nama surat Alquran didasarkan atas :
1.  Kandungan surat. Misalnya surat Nuh yang mengisahkan tentang Nabi Nuh AS.
2. Kata pembuka surat. Misalnya, surat al-Qari’ah dari kata “Al-Qa-Ri-Ah” pada awal surat.
3. Fungsi surat. Misalnya surat al-Ikhlash yang berfungsi sebagai pemurnian (ikhlas) tauhid atau keimanan.
4.  Salah satu kata yang ada di dalam suatu surat. Misalnya surat al-‘Alaq dari kata “Alaq” pada ayat kedua.[5]

     Allah menyebut kitab-Nya dengan apa yang bertentangan dengan yang disebut oleh orang Arab, yakni aspek global dan rinciannya. Keglobalan tersebut dinamakan Alquran sebagaimana mereka memberi nama pada sekumpulan sya’ir (diwan). Bagian dari Alquran ini adalah surat, seperti sajak (qashidah) versi mereka.

     Ada surat Alquran yang berisi bahwa kebesaran dan kekuasaan Allah SWT, Dia sang raja penguasa atas segala sesuatu yang mengadakan, meniadakan, menghidupkan, dan mematikan.

     Nabi SAW bersabda “Sesungguhnya Allah menundukkan anak Adam dengan mati, menjadikan dunia ini tempat hidup kemudian, dan menjadikan akhirat tempat pembalsan kemudian kekal selamanya” (R.Ibn Hatim dari Qatadah). Dia sang maha mulia, perkasa, menang, dan maha pengampun. Dia pula yang menjadikan langit tujuh petala, tujuh susun, tanpa ada cela aib, kekurangan atau keliruan dan pertentangan, kemudian Allah mempersilahkan makhluknya untuk memperhatikan semua kejadian untuk membuktikan betapa rapinya serta indahnya, kemudian Allah telah menghias langit dunia dengan bintang-bintang bagaikan pelita yang menerangi, juga itu dijadikan alat untuk melempari setan yang berusaha mencuri percakapan dan pendengaran untuk menipu mempengaruhi manusia.[6]

Berikut surat yang menjelaskan tentang orang kafir:
وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (٦) إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ (٧) تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ (٨) قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلا فِي ضَلالٍ كَبِيرٍ (٩) وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ (١٠) فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لأصْحَابِ السَّعِيرِ (١١)

Dan orang-orang yang ingkar kepada Tuhannya, akan mendapat azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu membara. Hampir meledak karena marah. Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, "Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu (di dunia)?". Mereka menjawab, "Benar, sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakan(nya)”, dan kami katakan, "Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun, kamu sebenarnya di dalam kesesatan yang besar". Mereka berkata, "Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala. Maka mereka mengakui dosanya. Tetapi, jauhlah (dari rahmat Allah) bagi penghuni neraka yang menyala-nyala itu (QS. Al-Mulk [67] : 6-11).
Dalam sebuah hadist Nabi SAW bersabda, “Lan yahlikan naasu hatta ya’dzaruu min anfusihin”, artinya : “Takkan binasa manusia sehingga diberi kesempatan untuk memperbaiki diri mereka”.[7]

Setelah surat yang menerangkan keadaan orang kafir yang menentang ajaran Allah, tuntunan Nabi SAW maka dalam ayat ini Allah menerangkan hal keadaan orang-orang yang akan mendapat naungan Allah disaat tak ada naungan kecuali naungan-Nya. Seorang yang diajak wanita bangsawan cantik untuk berzina, tiba-tiba ia mengatakan bahwa, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”. Juga orang yang bersedekah dengan tersembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya (Bukhari, Muslim).

Nabi SAW, bersabda “Lau tawakkaltum ala Allahi haqqa tawakulihi larazaqum kamaa yurzaqut thairu tagh duu khimaa shan wa taruu hu bithaa na”, artinya: “Andaikan kamu tawakkal kepada Allah dengan sepenuhnya, niscaya Allah akan memberimu rezeki sebagaimana burung yang keluar di pagi hari dalam keadaan perutnya kosong dan lapar, dan sore hari kembali sudah penuh kenyang” (R. Ahmad, Attirmidzi, Annasa’I, Ibn. Majah dari Umar bin Al Khattahab r.a).

     Surat dalam Alquran juga berisi kalimat La Ilaaha illallaah mengandung dua rukun. Pertama : (La Ilaaha), yaitu peniatan segala sesuatu yang diibadahi dengan sebenarnya selain Allah. Kedua : (Illallah) yaitu Penetapan bahwa Allah yang berhak untuk diibadahi.[8]

     Diriwayatkan dalam sebuah atsar (riwayat) bahwa kunci surga adalah (la ilaha illallah), akan tetapi apakah setiap orang yang mengucapkannya berhak dibukakan pintu surga untuknya?

     Kalimat La Ilaha Illallah dalam surat Alquran menjadi kunci pembuka pintu surga, dan berguna bagi orang yang mengucapkannya, dan syarat-syarat tersebut yaitu :
1.  Ilmu pengetahuan karena setiap kalimat memiliki makna, maka makna La Ilaha Illallah dengan pengetahuan yang bertentangan dengan sifat ketidak-tahuan, yaitu : Menafikan atau meniadakan sifat ketuhanan dari selain Allah, lalu menetapkannya untuk Allah semata, artinya : “Tidak ada yang berhak disembah atau diberikan ibadah kecuali Allah”.

2. Yakin yaitu benar-benar meyakini akan maksudnya, karena kalimat ini sama sekali tidak menerima keraguan, prasangka, dan kebimbangan, akan tetapi wajib bertopang kepada keyakinan yang pasti dan kuat. Allah berfirman menyebutkan sifat-sifat orang mukmin.

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ
Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar (QS. Al-Hujurat [49] :15).

3. Menerima apabila anda telah mengetahui dan meyakini, maka sepatutnya pengetahuan yang  berkeyakinan ini memiliki pengaruh, yaitu : menerima setiap apa yang dituntut oleh kalimat ini dengan hati dan lidah.

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ
Sesungguhnya mereka dahulu bila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah
melainkan Allah) mereka menyombongkan diri (QS. As-Saffat [37] : 35).

4.  Tunduk dan Patuh Tauhid membutuhkan ketundukan yang sempurna. Ini merupakan pembuktian dan bentuk pengamalan dan keimanan.

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan  (QS. Luqman [31] : 22).

5.  Kejujuran dalam mengucapkannya, kejujuran yang menghapus kedustaan, karena siapa saja mengatakannya dengan lidahnya saja, sedangkan hatinya mendustai kalimat itu maka dia munafik. Dasarnya adalah firman Allah yang mencela orang-orang munafik.

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا ۚ وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا ۖ قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَاتَّبَعْنَاكُمْ ۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ ۚ يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ
Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)". Mereka berkata: "Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu". Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan (QS. Al’Imran [3] : 167).

6.      Kecintaan
Bukti kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya yaitu mendahulukan kecintaan Allah, meskipun bertentangan dengan hawa nafsunya, loyal terhadap orang yang cinta Allah dan Rasul-Nya.

7.      Ikhlas
Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus. Begitu banyak orang yang membaca Alquran tanpa mendalami makna kandungan suratnya. Memahami makna Surat Alquran sangat perlu sebagai peningkat iman dan takwa kepada Allah SWT. Jika kita sedang merasa gagal karna sesuatu hal, ingat dalam Alquran sudah ada surat al-Insyirah yang berisi tentang kemudahan dibalik kesulitan hidup.

Surat Alquran diturunkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dalam bahasa Arab. Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai dasar-dasar aqidah, kaidah-kaidah syari’at, asas-asas perilaku, menuntun manusia ke jalan yang lurus dalam berpikir dan beramal. Namun, Allah SWT tidak memberi perincian-perincian dalam masalah-masalah itu sehingga banyak lafal pada surat Alquran yang membutuhkan tafsir, apalagi sering menggunakan susunan kalimat yang singkat namun luas pengertiannya.
Dalam lafazh yang sedikit saja dapat terhimpun sekian banyak makna. Untuk itulah, diperlukan penjelasan mengenai surat Alquran.
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah (QS. Az-Zukhruf [43] : 26-27).
     Salah satu bentuk nasihat Allah ialah dalam bentuk surat Alquran ini yang dikemas sedemikian rupa guna menambah keimanan seseorang dan sebagai pengarah dari kesesatan menuju kebenaran. Tidak semua orang bisa menerima dan tidak semua orang tidak menerima akan ajaran yang terdapat dalam surat Alquran. Karena orang yang baik adalah orang yang menasehati sesama dan mengamalkan ajarannnya.

     Betapa indahnya sentuhan bahkan tetesan embun surat Alquran pada hati para pembacanya. Segala keangkuhan hati, kekafiran, kemunafikan, terkalahkan oleh dahsyatnya makna surat Alquran yang mengajak kita untuk selalu fastabiqul khairat.[9]

     Surat Alquran berisikan iman dan taqwa kepada Allah juga melindunginya dari kebusukan dan kerusakan, serta mendorong kepada setiap kebajikan dan kemuliaan (Syekh Shalih Al-Bulaihi, Al-Hadyu Wal Bayan Fi Asma’il quran).

     Jika masih kesulitan memilih jalan, tidak bisa melihat persoalan dengan jernih, merasa kebingungan dan sesak dada, kembalilah kepada Alquran yang dimana suratnya membawa ketentraman hati yang harus dipatuhi sebagai umat islam. Dengan begitu anda akan keluar dari segala kerisauan hati, fikiran, lepas dari segala macam kebodohan, bebas dari kesepian anda dan meraih kekuatan anda kembali (Nashr bin Yahya bin Abi Kastir).

     Salah satu ibadah sunnah yang paling efektif untuk meraih surga Allah ialah dengan mendekatkan diri pada Allah dan kitab sucinya, membaca serta mengamalkan isi Alquran. Khabbab bin Art pernah berkata kepada seseorang: “ Dekatkanlah dirimu kepada Allah semampumu. Dan ketahuilah bahwa tidak ada cara mendekatakan diri kepada Allah selain melalui firmannya”  (Ibnu Rajab, Jami’ul Ulum Wal Hikam, 364).

     Namun, tidak lepas dari godaan syaitan yang terus berusaha mengganggu  seseorang yang sedang ibadah mendekatkan diri pada Allah. Ada perasaan malas itu datangnya dari syaitan, ada perasaan lelah ibadah itu juga datangnya dari syaitan, tinggal bagaimana kita menyikapi dan menolak keras hal itu. Kita harus melawan kemalasan sebab itu perbuatan tidak baik menimbulkan suatu kebiasaan buruk.

     Siapa Nabimu? itulah salah satu pertanyaan yang akan ditanyakan di alam kubur nanti. Jika dia dapat menjawab, maka dia akan selamat, dan jika tidak, dia akan celaka. Dalam surat Alquran berisi anjuran kesaksian kita untuk percaya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.

     “Siapa menaati Rasul, sungguh dia telah mentaati Allah” (QS. An-Nisa’[4]: 80) Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31). Kedua surat tersebut berisi kesaksian bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT.

     Surat dalam Alquran pun berisi tentang universalitas telah diakui dan dijelaskan panjang lebar oleh Alquran Syatibiy yang menyatakan bahwa Alquran sebagai penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada. Meskipun Alquran sebagai syifa’ belum diketahui dapat menyembuhkan keseluruhan yang ada dalam diri manusia namun dalam surat Alquran menjelaskan segala sesuatu yang menjadi pedoman manusia, baik tentang sebab penyakit hati maupun dampak yang akan terjadi saat penyakit hati muncul.[10]

  Jadi, tidak semua orang dapat menjelaskan mengenai surat dalam Alquran. Para pembaca alangkah baiknya tidak hanya membaca melainkan harus menguasai makna yang terdapat pada surat Alquran, memiliki akidah yang benar, serta mengamalkan ajarannya. Terjadinya berbagai pendapat dan penafsiran yang selama ini beredar secara liar atau menambah nambahkan surat pada Alquran perlu diminimkan.

  Memahami bukan sembarang memahami artinya saja namun mengkaji isi yang ada dalam surat Alquran, ini sangat penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam dan sebagai pencerahan untuk para kaum muslimin. Akhirnya, hanya kepada Allah SWT sajalah kita berserah diri dan mohon perlindungan atas segala kekurangan. Hanya Allah SWT sang pemilik ilmu dan kebenaran yang sermpurna. Surat Alquran sebagai pedoman untuk kita para manusia. Dekatkan diri pada Alquran maka kelak hidup dunia akhirat kita akan dipermudah.

     Dengan memahami makna Alquran itu sebagai bentuk kecintaan, kehormatan, yang diinginkan oleh Allah SWT. Jika umat menerima surat yang ada di dalam Alquran ia akan berusaha dengan sungguh-sungguh agar dapat melaksanakan isi surat tersebut.

B.       Penentuan Urutan Surat-Surat Alquran
Para ulama berpendapat bahwa urutan surat pada Alquran berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Ada dalil hadits yang membicarakan tentang keutamaan surat tertentu atau ayat yang terletak di awal maupun akhir.

Imam Ibnu Al-Hashar berkata : “Susunan surat dan letak ayat dalam surat tertentu berasal dari wahyu dan bukan hasil ijtihad para sahabat sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang”.

Sebuah surat turun karena suatu urusan yang terjadi dan ayat pun turun sebagai jawaban atas segala macam pertanyaan, Jibril yang akan memberitahukan Nabi SAW dimana surat dan ayat akan ditempatkan.

Para ulama berbeda pendapat tentang tertib aturan urutan  surat Alquran :
1.   Dikatakan bahwa tertib surat itu tauqifi dan ditandatangani langsung oleh Nabi SAW sebagaimana diberitahukan Jibril kepadanya atas perintah Allah. Dengan demikian, Alquran pada masa Nabi Muhammad SAW telah tersusun surat-suratnya secara tertib sebagaimana tertib ayat-ayatnya, seperti Mushaf Utsman yang tidak ada seorang sahabat pun menentangnya. Ini menunjukkan telah terjadi kesepakatan (ijma’) atas tertib surat, tanpa suatu perselisihan. Yang mendukung pendapat ini ialah dengan Nabi SAW telah membaca beberapa surat secara tertib di dalam shalatnya.  Bukhari meriwayatkan dari Ibn Mas’ud, bahwa ia mengatakan tentang surat Bani Isra’il, al-Kahfi, Maryam, Ta Ha dan al- Anbiya’: “Surat tersebut diturunkan di mekah dan yang pertama-tama aku pelajari”, kemudian surat tersebut diurutkan sebagaimana tertib susunan seperti sekarang.
2.   Dikatakan bahwa tertib surat itu berdasarkan ijtihad para sahabat, mengingat adanya perbedaan tertib di dalam mushaf mereka misalnya mushaf Ali disusun menurut tertib Nuzul, yakni dimulai dengan Iqra’, kemudian al-Muddatstsir, lalu Nun, al-Qalam, kemudian al-Muzzammil, dan seterusnya hingga akhir surat Makkiyah dan Madaniyah.
3.  Dikatakan bahwa sebagian surat itu tertibnya  tauqifi dan sebagian lainnya berdasarkan ijtihad para sahabat, hal ini karena terdapat dalil yang menunjukkan tertib sebagian surat pada masa Nabi. Misalnya, keterangan yang menunjukkan tertib as-Sab’ut Tiwal, al-Hawamim dan al-Mufashol pada masa hidup Nabi SAW.[11]

Kata Ibn Hajar lebih lanjut : “Ini menunjukkan bahwa tertib surat-surat seperti terdapat dalam Mushaf sekarang adalah tertib surat pada masa Nabi SAW”, dan katanya: “Namun mungkin juga bahwa yang telah tertib pada waktu itu hanyalah bagian mufashol, bukan yang lain”.

Adapun ulama yang mendukung pendapat pertama ini adalah Imam Maliki, Alqadhi Abu Bakar, dan Ibnu Faris dalam bukunya yang berjudul “Kitabul Khamsi”. Alasan-alasan yang dikemukakan diantaranya adalah mushaf-mushaf para sahabat berbeda-beda dalam penertiban suratnya sebelum Khalifah Utsman Bin Affan memerintahkan penghimpunan secara seragam. Maka sekiranya pengelompokan itu secara tauqifi, tidak akan terjadi perbedaan. Karena ketentuan Nabi itu mutlak untuk dilaksanakan.  Argumen yang lain dilandaskan pada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibni Asytah dari Ismail Bin Abbas dari Hibban Bin Yahya dari Abu Muhammad Alquraisyiy dalam Masjfuk Zuhdi berkata,  “Utsman memerintahkan kepada para sahabat agar mengurutkan surat-surat yang panjang. Kemudian ia menjadikan surat al-anfal dan at-Taubah didalam kelompok tujuh dan surat yang ketujuh, dan ia tidak memisahkan surat al-Anfal dan at-Taubah dibaca dengan menggunakan Basmalah”.

Tidak ada satupun surat atau ayat yang penempatannya tidak berdasarkan ketetapan Nabi SAW. Sebab jika ijma’ yang disepakati bukan berdasarkan ketetapan Nabi SAW, maka pemilik Mushaf yang berbeda tersebut tidak akan seluruhnya menyepakati dan melaksanakan ijma’ tersebut, mereka juga akan tetap berpegang pada Mushaf mereka. Ulama besar, Azarqani dalam Masjfuk Zuhdi mengatakan “Ada hadist yang mengatakan tauqifi, namun Utsman juga melakukan ijtihad”. Alqadhi Abu Muhammad bin Athiyah juga turut mengutarakan pendapatnya, “Sesungguhnya kebanyakan surat-surat Alquran itu telah diketahui tertibnya pada waktu hidup, seperti tujuh surat panjang. Surat-surat yang dimulai dengan (khamim) dan surat-surat al-Mufashol. Adapun surat-surat lain mungkin tertibnya diserahkan kepada umat islam sesudah Nabi SAW wafat”.

Ketika pada masa Utsman Alquran dikumpulkan secara tertib. Ketika pada masa Utsman Alquran dikumpulkan, ditertibkan surat dan ayatnya pada satu huruf (logat) dan umat pun menyepakatinya, maka mushaf yang ada pada mereka ditinggalkan. Para sahabat sangat bersemangat untuk mendapatkan pengajaran Alquran dari Nabi SAW. Mereka ingin menghafal dan memahaminya. Bagi mereka, ini merupakan suatu kehormatan. Seiring dengan itu, mereka juga bersungguh-sungguh mengamalkan dan menegakkan hukum-hukumnya.

Urutan surat dalam Alquran yang kita jumpai sekarang telah melewati proses penertiban yang tidak mudah. Dapat dimaklumi bahwa Alquran adalah sumber nomor wahid bagi umat Islam dalam pengambilan hukum-hukum, dan lebih dari itu, ia adalah pedoman hidup bagi kita semua.

Berikut beberapa pendapat mengenai pelopor pembuat urutan surat :
1. Menurut Abu Ja’far Al-Nuhas, Al-Kirmani, Ibn Al-Hishar, dan Al-Anbari, M.M. Al-A’zami (2005: 77), Abu Syahbah (1992: 296), dan Manna’ Al-Qathan (1994: 144) urutan peletakkan surat adalah petunjuk Nabi Muhammad SAW.
2. Menurut Imam Al-Suyuthi, Imam Malik, dan Abu Bakar Al-Thayyib, urutan surat adalah hasil pemikiran para sahabat ketika menulis Mushaf Alquran.
3. Abu Muhammad bin ‘Atthiyyah dan Imam al-Baihaqi menyatakan bahwa sebagian besar surat Alquran diurutkan berdasarkan petunjuk Nabi SAW dan sebagian yang lain hasil pemikiran para sahabat.
Ada hadist lain dalam bab tersebut yang menunjukkan bacaan secara urut mengenai :
a.  Surat-surat pendek atau Al-Mufashol (Muslim, 1988: I: 363: No.822)
b.  Surat-surat yang didahului kata Ha-Mim (surat nomor 40,41,42,43,44,45,dan 46)
c.   Surat-surat Bani Israil atau al ’Isra’ (17), al-Kahfi (18), Maryam (19), Thaha (20), lalu al-Anbiya’(21).[12]

Sementara itu, Imam Muslim meriwayatkan, “Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW menasihatkan kalian azzahraawain, yakni surat al-Baqarah dan surat Ali ‘Imran”. Lalu Nabi Muhammad SAW mengucapkan dua surat itu dengan urutan keduanya. Abu Bakar Al-Ambary menuturkan bahwa, “Allah SWT menurunkan Alquran keseluruhan ke langit dunia, kemudian dia mengatur turunnya selama dua puluh tahun. Maka, surat-surat Alquran merupakan cakupan dari kejadian suatu peristiwa,  sedangkan ayat merupakan jawaban mengenai sesuatu yang memerlukan penjelasan”. Untuk itulah, malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad SAW untuk memberikan penjelasan mengenai penempatan surat dan ayat. 

Sebagian ulama salaf berpendapat bahwa urutan surat Alquran adalah berdasar petunjuk Nabi Muhammad SAW, karena datangnya surat Hawaamiin yaitu surat-surat yang diawali dengan kata Ha-Mim tersusun secara tertib. Demikian juga surat Thawaasiin yaitu surat-surat yang diawali dengan kata Tha-Sin. Juga surat Al-Musabbihat yaitu surat-surat yang diawali dengan kata subhana, sabbaha, yusabbihu, sabbih tidak tersusun secara urut, bahkan terpisah antara satu surat dengan surat lainnya. Letak surat al-Qashash dengan awalan Tha-Sin-Mim dan surat al-Naml dengan awalan Tha-Sin diletakkan secara terpisah. Padahal surat al-Qashash itu lebih pendek daripada surat al-Naml. Seandainya urutan surat itu hasil pemikiran para sahabat Nabi SAW niscaya surat al-Musabbibat yaitu surat-surat yang diawali dengan kalimat tasbib disebutkan secara urut, dan surat al-Naml yang terdiri dari ayat yang lebih sedikit diletakkan lebih akhir daripada surat al-Qashash.[13]
“Barangsiapa yang mengacak-acak mendahulukan atau mengakhirkan surat-surat Alquran, berarti dia merusak susunan Alquran”. Dari beberapa permintaan Alquran ini jelas bahwa makna yang dimaksudkan adalah sesuatu yang seperti wahyu atau kitab suci. Alternatif yang diajukan Watt adalah bahwa kata surat terambil dari bahasa Siria, surta yang bermakna “Tulisan teks kitab suci”, atau bahkan “Kitab suci” (Watt: 1991: 90).

Alternatif Watt yang menyatakan bahwa surat yang bermakna tulisan atau teks kitab suci mungkin dapat diterima, tetapi bila itu diartikan kitab suci sebagai suatu kesatuan tentu saja kita akan mengalami kesulitan. Bila Alquran meminta untuk didatangkan sepuluh surat berarti yang dimaksud adalah sepuluh kitab suci yang sama. Sungguh tantangan yang tidak masuk akal dan tidak diterima. Padahal tantangan Alquran merupakan tantangan yang sunguh-sungguh.

Allah menjadikan Alquran sebagai petunjuk dan cahaya bagi setiap hamba yang mengimaninya, ia sebagai penawar hati dan obat dari penyakit yang ada di dada, mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Kalamullah, setiap huruf yang dibaca mendatangkan pahala bahkan dilipatgandakan. Nabi SAW menyebutkan beberapa keutamaan pada surat-suratnya. Semoga dengan kita mengetahui  keutamaannya menumbuhkan semangat untuk membacanya serta membuahkan amal sesuai dengan tuntunannya, amin.

C.      Batasan Surat-Surat Alquran
       Surat dalam Alquran berdiri sendiri. Kedudukan masing masing surat sama. Setiap surat memiliki makna istimewa tersendiri. Batas batas surat berdasarkan pada petunjuk dari Nabi SAW. Saat shalat, Nabi Muhammad SAW selalu menggunakan basmalah sebagai penyambung surat. Kala itulah sahabat nabi jadi mengetahui batas awal dan akhir dalam surat Alquran. Setiap surat selalu diawali dengan basmalah kecuali surat at-Taubah, hal ini telah tertera dalam Mushaf Alquran.

Pada sisi terminologis, kita tidak melihat batasan surat dalam perspektif yang berbeda. Pada umumnya memberikan batasan yang sama tentu dengan sedikit penjelasan tambahan yang berbeda. Al-Zarkasyi misalnya menjelaskan pengertian surat dengan sekelompok ayat-ayat Alquran yang mempunyai permulaan dan penutup (Al-Zarqasyi, t.t: I, 263). Al-Zarqani memberikan sedikit tambahan bahwa sekelompok ayat-ayat Alquran yang mempunyai permulaan dan akhir itu adalah berdiri sendiri (Al-Zarqani, 1988: I, 350). Tetapi, meskipun sekelompok ayat dimaksud berdiri sendiri, namun satu sama lain dipercaya berhubungan erat saling melengkapi, sehingga ada yang mengatakan bahwa surat al-Fatihah adalah pengantar surat al-Baqarah, dan surat al-Baqarah adalah pengantar surat an-Nisa’ dan seterusnya.

D.      Keutamaan Surat Tertentu
1.   Surat Al-Fatihah
Al- Fatihah bermakna asy-Syafiyah yaitu yang menyembuhkan, merupakan surat yang paling mulia dalam Alquran.
2.   Surat Al-Baqarah
Al-Baqarah ialah puncaknya Alquran. Dikenal dengan sebutan az-Zahrawani yang apabila dibaca dalam sebuah rumah, maka rumah tersebut tidak akan dimasuki setan.
3.   Surat Qaf
Surat yang sering dibacakan oleh baginda Nabi Muhammad SAW ketika menyampaikan pidato di atas mimbar, saat shalat Jum’at, dan shalat Ied atau hari raya.
4.   Surat Al-Kahfi
Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at akan menerangi pembacanya maupun dirinya sendiri sampai Baitullah di kota Mekkah, serta barangsiapa yang menghafalkan 10 ayatnya maka akan terjaga dia dari fitnah Dajjal.
5.   Surat Al-Mulk
Memberikan syafaat bagi siapa saja baik yang membaca maupun pendengarnya sampai ia diampuni oleh Allah SWT.
6.   Surat Al-Ikhlas
Sebanding dengan sepertiga Alquran.
7.   Al-Mu’awwidzatain
Orang-orang memohon perlindungan kepada Allah dengan membaca kedua surat ini.
8.    Surat At-Takwir, Al-Infithar, dan Al-Insyiqaq
Berisi proses terjadinya hari kiamat .[14]
Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; Apakah mengenai keutamaan surat-surat Alquran itu hanya ada satu dua surat? Ia menjawab, “Aku melihat orang-orang telah menyimpang jauh dari Alquran, mereka tekun dengan fikih Abi Hanifah dan Kitab Magazi-nya Abi Ishaq. Oleh karena itu, aku buat hadist ini untuk hisbah (mengarahkan mereka kepada Allah dan cinta agama)”.




BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Di era millennial saat ini sudah banyak yang mengacuhkan akan apa saja makna tersirat dalam surat Alquran. Membaca saja jarang apalagi mengetahui kandungannya.

Dengan adanya makalah ini saya menjabarkan pengertian surat Alquran, urutan surat Alquran, bacaan surat Alquran, dan keutamaan pada surat Alquran.

Perlu disadari bahwasannya hidup ini sementara, sia-sia hidup jika tidak dipergunakan untuk beramal baik. Kitab suci Alquran ialah pedoman umat muslim yang tidak boleh dihilangkan dalam kehidupan sehari-hari. Beristiqamah memahami surat Alquran serta mengamalkan ajarannya ialah suatu kewajiban.

B.       Saran
Saran saya, tugas sebagai seorang muslim untuk mengetahui, membaca dan mengamalkan kandungan surat Alquran sangat diperlukan sebagai pendekatan kepada Allah SWT agar diberikan jalan lurus dalam kehidupan dunia dan akhiratnya.

  

  
DAFTAR PUSTAKA

Ali Aziz, Moh. 2018. Mengenal Tuntas Alquran. Surabaya : Imtiyaz.
Al-Qaththan, Manna. 2005. Pengantar Studi Ilmu Alquran. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar.
Al-Qattan, Manna’ Khalil. 2007. Studi Ilmu Quran. Bogor: PT Pustaka Litera AntarNusa.
Al-Qattan, Manna’ Khalil. 2016. Studi Ilmu-Ilmu Alquran. Bogor : Litera Antar Nusa.
Ash-Shaabuuniy, Muhammad Ali. 1998. Studi Ilmu Alquran. Bandung : Pustaka Setia.
Aswadi. 2009. Alquran Kitab Kedokteran. Surabaya : Dakwah Digital Press.
Bahreisy Salim, dan Bahreisy Said (penterjemah) . 1992. Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8. Surabaya : PT Bina Ilmu.
Eldeeb Ibrahim. 2009. Be A Living Quran. Jakarta : Lentera Hati.
El-Fandy, Muhammad Jamaluddin. 2000. Alquran Tentang Alam Semesta. Jakarta : Amzah.
Nashir, Umar, dan Muhammad. 2009. Sms Tadabbur Alquran. Surabaya : Pustaka Elba.
Omar, Toha Yahya. 1983. Ilmu Da’wah. Jakarta : Widya Karsa Pratama.
Tafseer.Info. Tafsir Al-‘Usyr AL-Akhir. Tafseer.Info.






[1] Toha Yahya Omar, Ilmu Da’wah, (Jakarta : Widya Karsa Pratama, 1983), Cet. 3, hlm. 203.
[2] Syaikh Manna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Alquran, (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2005), Cet. 1, hlm. 181.
[3] Muhammad Jamaluddin El-Fandy,  Alquran Tentang Alam Semesta, (Jakarta : Amzah, 2000), Cet. 3, hlm. 2.
[4] Moh Ali Aziz, Mengenal Tuntas Alquran, (Surabaya : Imtiyaz, 2018), Cet. 3, hlm. 75.
[5] Moh Ali Aziz, Mengenal Tuntas Alquran, (Surabaya : Imtiyaz, 2018), Cet. 3, hlm. 76.
[6] Bahreisy Salim, dan Bahreisy Said (penterjemah) , Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid  8, (Surabaya : PT Bina Ilmu, 1992), Cet.1, hlm. 121.
[7] Bahreisy Salim, dan Bahreisy Said (penterjemah) , Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid  8 , (Surabaya : PT Bina Ilmu, 1992), Cet.1, hlm. 172.
[8] Tafseer.Info, Tafsir Al-‘Usyr Al-Akhir, Tafseer.Info, hlm.129.
[9] Nashir, Umar, dan Muhammad, Sms Tadabbur Alquran, (Surabaya : Pustaka Elba, 2009), hlm. 25.
[10] Aswadi, Alquran Kitab Kedokteran, (Surabaya : Dakwah Digital Press, 2009), hlm. 45.
[11] Manna’ Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Alquran, (Bogor : Litera Antar Nusa, 2016), Cet. 17, hlm. 207.
[12] Moh Ali Aziz, Mengenal Tuntas Alquran, (Surabaya : Imtiyaz, 2018), Cet. 3, hlm. 77.
[13] Moh Ali Aziz, Mengenal Tuntas Alquran, (Surabaya : Imtiyaz, 2018), Cet. 3, hlm. 78.
[14] Ibrahim Eldeeb, Be A Living quran, (Jakarta : Lentera Hati, 2009), Cet.1, hlm. 86-87.

Shalatmu Bahagiakan Dunia dan Akhiratmu

Pendalaman Terapi Shalat Bahagia Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag (Founder) Siapakah Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag ?? ...